Menu

Mode Gelap
Wali Kota Pangkalpinang Prof Udin Terima Audiensi Danden Pomal Pererat Antar Lembaga  Pemkot Pangkalpinang Tegaskan Larangan PKL Menjamur di Atas Trotoar dan Bahu Jalan SMPN 3 Mentok Perkuat Sinergi dengan Orang Tua demi Mewujudkan Sekolah yang Adaptif Agus Purnomo: Seharusnya kades dan Kadus Tanjung Pura Merangkul Semua Masyarakatnya Jangan hanya Sebagian Langkah Percepatan Penghentian Sementara Operasional Pelabuhan Penyeberangan Sadai, Ini Kata Didit Pemkot Pangkalpinang Tingkatkan Kesadaran Taat Pajak Tanpa Mengurangi Hak Pegawai

Bangka Barat

Dari Pelabuhan Tua ke Kota 1.000 Kue  Mentok Siap Jadi Destinasi Wisata Nusantara

badge-check


Dari Pelabuhan Tua ke Kota 1.000 Kue  Mentok Siap Jadi Destinasi Wisata Nusantara Perbesar

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

BABEL.MENTOK.SKTNEWS.COM — Aroma santan yang menguap dari wajan-wajan kecil di Kampung Tanjung, Minggu sore, seperti membuka pintu kenangan panjang kota pelabuhan tua di ujung barat Bangka.

Ratusan warga berdesakan di bazar Ramadhan, membeli kue lapis, bingka, jongkong, kue bangkit, hingga es buah dingin yang melegakan dahaga. Namun di balik keramaian itu, tersimpan cerita lebih besar Mentok sedang menata dirinya sebagai destinasi wisata kuliner “Kota 1.000 Kue,” sebuah identitas budaya yang siap dipromosikan ke panggung nasional bahkan dunia.

Bazar Ramadhan di Kampung Tanjung menjadi bukti awal bahwa potensi wisata kuliner Mentok bukan sekadar wacana. Dalam hitungan jam, lapak-lapak sederhana diserbu pembeli. Firmansyah (25), pedagang es buah, tersenyum lebar saat dagangannya ludes sebelum pukul lima sore.

“Ramadhan ini berkah. Kalau ramai terus begini, saya ingin buka kedai tetap,” katanya,matanya berbinar. Minggu (22/2)

Cerita Firmansyah adalah potret kecil dari denyut ekonomi rakyat. Bazar Ramadhan bukan hanya tempat membeli takjil, tetapi ruang hidup UMKM, ruang belajar generasi muda dan ruang ingatan keluarga tentang resep turun-temurun yang diwariskan nenek moyang.

Di Mentok, Ramadhan bukan hanya ibadah. Ia adalah musim pulang ke dapur-dapur lama. Sejak abad ke-18, kota pelabuhan ini menjadi simpul perdagangan timah dan jalur pelayaran internasional. Pedagang Melayu, Tionghoa, Arab, hingga Eropa pernah singgah di pelabuhan Mentok. Mereka membawa rempah, gula, tepung, teknik memasak dan cita rasa yang kemudian berbaur dalam kue-kue tradisional.

Kue bangkit yang ringan seperti doa, kue rintak dengan aroma kelapa panggang, kue srikaya yang manis lembut, hingga bingka labu yang hangat, semua menjadi jejak sejarah yang bisa dimakan.

Pada bulan Ramadhan, kue-kue itu bermunculan seperti bunga musim semi di bazar-bazar kecil. Tradisi kuliner yang lahir dari pelabuhan kolonial kini kembali hidup di tangan ibu rumah tangga, remaja dan pedagang kecil.

Di lapak sebelah Firmansyah, seorang ibu tua menjual kue bangkit dari resep neneknya. Ia bercerita, dulu kue itu dibuat untuk pelaut yang berlayar dari Mentok menuju Selat Malaka.

“Supaya mereka ingat kampung halaman,” ucapnya pelan.

Pemerintah daerah mencatat bahwa bazar Ramadhan di Mentok tersebar di beberapa titik, menampung puluhan hingga ratusan pedagang kecil. Dalam momentum Ramadhan, omzet pedagang bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potensi wisata. Jika dikelola dengan baik, bazar Ramadhan dapat berkembang menjadi festival kuliner tahunan. Tur wisata bisa mengajak pengunjung menelusuri jejak kuliner Mentok dari Kampung Tanjung ke kota tua pelabuhan, lalu singgah ke masjid-masjid tua, rumah kolonial, hingga pantai bersejarah.

Bayangkan wisatawan berjalan di bawah lampu-lampu Ramadhan, mencicipi ratusan kue tradisional, mendengar kisah pelaut timah dan merasakan kehangatan masyarakat Mentok. Di sana, wisata bukan hanya hiburan tetapi ia adalah pendidikan budaya.

Konsep wisata kuliner berbasis komunitas telah terbukti di banyak daerah. Kota kecil yang merawat makanan tradisional sering menjadi magnet wisata. Kuliner menjadi bahasa universal yang menghubungkan sejarah, identitas, dan ekonomi.

Mentok memiliki semua unsur itu. Kota 1.000 Kue: Dari Julukan ke Gerakan Wisata. Julukan “Kota 1.000 Kue” lahir dari tradisi panjang dapur-dapur keluarga Mentok. Namun julukan itu belum sepenuhnya menjadi gerakan wisata yang sistematis. Padahal, potensi besar sudah ada. Ratusan resep kue tradisional. UMKM kuliner aktif. Sejarah kota pelabuhan kolonial.

Wisata religi dan wisata pantai di sekitar Mentok. Tradisi Ramadhan yang kuat jika digabungkan dalam satu konsep festival tahunan, Mentok dapat menjadi destinasi wisata kuliner unik di Indonesia.

Festival “1.000 Kue Ramadhan Mentok” bisa menghadirkan:
Parade kue tradisional.
Tur dapur keluarga.
Workshop membuat kue.
Pasar UMKM malam hari.
Cerita sejarah kuliner Mentok.

Kolaborasi dengan komunitas sejarah dan pariwisata

Di lapak lain, seorang nelayan menjual kue rintak buatan istrinya untuk menambah biaya sekolah anak. Ada pula ibu rumah tangga yang baru pertama kali berjualan setelah suaminya kehilangan pekerjaan.

Ramadhan memberi mereka kesempatan
Wisata kuliner yang berkembang berarti lebih banyak keluarga tersenyum, lebih banyak anak sekolah, lebih banyak resep lama yang selamat dari lupa.

Pembangunan wisata tidak selalu dimulai dari hotel mewah atau jalan raya besar. Kadang ia dimulai dari dapur kecil dan bazar kampung.

Mentok dapat menata wisata kuliner dengan langkah konkret:
Pendataan dan dokumentasi resep kue tradisional.
Pelatihan UMKM kuliner.
Branding resmi “Kota 1.000 Kue.”

Festival Ramadhan tahunan berskala nasional,kolaborasi dengan agen wisata dan media nasional,integrasi wisata kuliner dengan wisata sejarah dan religi.

Dengan strategi itu, wisata kuliner Mentok dapat menjadi ekonomi berkelanjutan, menjaga budaya sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Jika promosi dilakukan konsisten, wisata kuliner Mentok bisa hidup sepanjang tahun. Kue tradisional dapat menjadi oleh-oleh khas. Tur sejarah kuliner bisa menjadi paket wisata. Festival kue dapat menjadi agenda nasional.

Ramadhan di Mentok bukan sekadar waktu berbuka puasa. Ia adalah awal perjalanan panjang menuju masa depan wisata kuliner yang berakar pada tradisi dan tumbuh menjadi harapan.(Red)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wali Kota Pangkalpinang Prof Udin Terima Audiensi Danden Pomal Pererat Antar Lembaga 

28 Juli 2026 - 08:41 WIB

Pemkot Pangkalpinang Tegaskan Larangan PKL Menjamur di Atas Trotoar dan Bahu Jalan

27 Juli 2026 - 13:40 WIB

SMPN 3 Mentok Perkuat Sinergi dengan Orang Tua demi Mewujudkan Sekolah yang Adaptif

23 Juli 2026 - 12:39 WIB

Agus Purnomo: Seharusnya kades dan Kadus Tanjung Pura Merangkul Semua Masyarakatnya Jangan hanya Sebagian

21 Juli 2026 - 09:04 WIB

Langkah Percepatan Penghentian Sementara Operasional Pelabuhan Penyeberangan Sadai, Ini Kata Didit

20 Juli 2026 - 11:36 WIB

Trending di Headline